Posted in Did You Know, Kabar-kabari

Makna Sabar dan Ibadah

Para ulama menyebutkan bahwa sabar ada 3 macam. Salah satunya adalah sabar dalam ketaatan dan ibadah. Sebab, ibadah itu merupakan beban. Beban bagi fisik dan beban bagi jiwa sekaligus. Beban dalam melakukannya dan juga beban dalam menjaganya.

Maka dalam mengerjakan ibadah atau ketaatan, setiap muslim harus bersabar. Ada 3 kesabaran yang harus ada agar ibadah tersebut berbuah pahala dan terjaga pahalanya sampai bertemu dengan Allah di hari perhitungan.

Pertama, sabar sebelum beribadah. Yaitu dengan meluruskan niat dan merapikannya. Terbebas dari ria dan sum’ah. Tidak beribadah karena sungkan dengan orang lain, karena “nggak enak” sama atasan, tetangga, rekan dan sebagainya. Sabar agar ibadah yang akan dilakukan semata-mata hanya untuk Allah. Terbebas dari berbagai motiv atau modus…

Tidak jarang dalam keseharian kita, ada keterpaksaan di dalam hati saat akan beribadah. Hati tidak bulat dan utuh demi meraih redhaNya. Ini terjadi karena kita tidak menghadirkan kesabaran sebelum beribadah.

Kedua, sabar saat/ketika melaksanakan ibadah. Sehingga ibadah yang dilakukan tidak sekedar menunaikan yang wajib dan kewajiban saja, tapi juga menyempurnakannya dengan sunnah dan adab etikanya. Hanya kesabaranlah yang menguatkan kita bertahan membaca dzikir-dzikir rukuk dan sujud (dan lainnya dalam shalat) secara baik, maksimal dan penuh ketenangan. Kalau kesabaran hilang, kadang kita hanya tumakninah atau baca sekali saja, lalu segera pindah kegerakan yg lain. Hanya kesabaran lah yang membuat kita bisa tersenyum saat bersedekah kepada orang lain dan mengiringinya dengan kalimat-kalimat thayyibah yang membahagiakan sipenerimanya. Kalau tidak sabar, kadang kita lupa tersenyum, lupa bertutur ramah kepadanya, karena kita merasa toh saya sudah berbuat baik kepadanya.

Ketiga, sabar setelah selesai beribadah. Yaitu dalam bentuk menahan diri dari menceritakannya kepada orang lain, apalagi mempublishnya kepada khalayak. Sebab, hal ini bisa menjadi jebakan iblis yang sangat lihai. Dengan halus dihancurkannya amal shaleh kita dengan mencampurkan riya di dalamnya. Kemudian ujung-ujungnya ibadah dan ketaatan kita tidak lagi semata-mata untuk Allah.

Mungkin awalnya tidak sengaja, tapi bisa beralih kepada riya. Saat bekerja di kantor, mata terasa terkantuk-kantuk. Kitapun berkata kepada orang didekat kita: “Aduh, semalam kecepatan bangun tahajjud, akibatnya ngantuk sekali sekarang….”
Atau kita tuliskan di FB atau twiter, “Alhamdulillah, berkah sekali berbuka hari ini…” atau “Alhamdulillah, lega rasanya… khatam juga 1 juz tilawah…” atau “Subhaanallah… sejuknya hati di dekat Ka’bah…” atau, “Waduuuh, dhuha hari ini hanya dua rakaat…”
Dan banyak lagi ungkapan-ungkapan lain yang memperlihatkan kepada orang lain bahwa kita dalam ketaatan (dan, itulah yang sebenarnya riya).

Maka perlu kesabaran dan menahan diri untuk menjaga ibadah dan ketaatan agar tetap hanya untuk Allah. Agar jangan kita kecewa nantinya di akhirat, karena ternyata banyak ibadah kita yang tidak layak disetorkan kepadaNya.

(Disarikan dari Mukhtashar mihaajul Qaashidin)

Author:

Sederhana seperti yang Anda pikirkan

Jangan Lupa Berkomentar :-)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s